12 TAHUN DI SAN FRANCISCO

Senin, 14 September 2026


Manusia punya berbagai cara untuk merumuskan konsep waktu yang abstrak. Salah satunya adalah menciptakan siklus dengan membagi satuan waktu ke dalam 12 segmen. Contoh siklus 12 yang paling populer tentu saja zodiak atau shio.


Pertama kali kami menginjakkan kaki di Amerika Serikat, tahun tersebut bertepatan dengan Tahun Kuda menurut perhitungan shio Tiongkok. Setelah melewati Tahun Kambing, Monyet, Ayam, dan seterusnya, tahun 2026 ini kembali memasuki Tahun Kuda; artinya kami sudah “menamatkan” satu siklus tinggal di San Francisco.


Tentu bukan hanya siklus zodiak yang kami lalui. Banyak perubahan lain terjadi di San Francisco lewat di depan mata dan terasa dampaknya. 


Saat kami tiba pada tahun 2014, sedang marak pendirian berbagai perusahaan rintisan (startup) teknologi informasi, mengikuti kesuksesan gelombang awal seperti Facebook, YouTube, Instagram, dan Twitter yang tumbuh seiring meluasnya akses internet. 


Sebagian besar startup era 2010-an fokus menyasar aplikasi ponsel pintar, didorong oleh kepopuleran iPhone berlayar sentuh yang memudahkan interaksi digital. Aplikasi digital ini melahirkan bentuk baru lapangan pekerjaan: ekonomi berbasis platform, tempat orang bisa mencari atau menawarkan jasa temporer, termasuk layanan transportasi.


Uber menjadi pelopor platform transportasi online (taksol), diluncurkan tahun 2010 di SF, lalu berkembang menjadi raksasa dan menginspirasi banyak perusahaan lain seperti GoJek.


Booming perusahaan rintisan ini diikuti oleh booming sektor properti. Karyawan yang direkrut dari seluruh Amerika Serikat, bahkan dari berbagai negara, tentu membutuhkan tempat tinggal di SF.


Akibatnya harga sewa rumah naik tak terkendali. Persaingan mendapatkan unit sewaan pun sangat ketat. 


Setiap ada apartemen disewakan, berjubel yang mengantre. Pada 2014, saat kami mencari tempat tinggal dan berkeliling ke beberapa apartment viewing, kami terkejut melihat satu lokasi yang sudah memiliki sekitar 20 orang dalam daftar minat sebelum kami datang.


Harganya pun di luar nalar. Ada orang-orang yang berani membayar sewa setahun penuh di muka demi mendapatkan unit yang mereka incar. Biaya hidup di SF pun menjadi yang tertinggi, atau salah satu yang tertinggi, di seluruh AS selama bertahun-tahun.


Namun setiap ada pasang tentu ada surutnya. Booming perusahaan rintisan dan properti ini berakhir bersamaan dengan pandemi COVID-19. 


Ribuan orang meninggalkan San Francisco karena semua kantor ditutup dan karyawan diminta bekerja dari rumah (WFH). Kesempatan bekerja dari mana saja membuat banyak orang pindah ke daerah atau negara bagian lain yang biaya hidupnya lebih rendah. Pusat kota berubah menjadi sepi, layaknya kota hantu.


Harga properti pun anjlok. Apartemen kosong tidak tersewa, kontras dengan situasi tahun 2014.


Perusahaan rintisan baru juga mendadak terhambat; siapa yang mau berinvestasi di tengah ketidakpastian pandemi?


Masa-masa puncak COVID‑19 membawa perubahan bagi kami juga. Berbagai pembatasan membuat kami menekuni hobi baru di alam terbuka: berkemah.


California, negara bagian tempat SF berada, punya banyak suaka alam dan kawasan hutan, beberapa di antaranya berstatus taman nasional seperti Yosemite, Sequoia, dan Redwoods. Berkemah di berbagai suaka alam ini memungkinkan kami menyaksikan pemandangan yang menakjubkan.


Kini San Francisco kembali memasuki masa pasang, dimulai dengan diperkenalkannya ChatGPT pada 2022.


Kemunculan ChatGPT dari OpenAI dan Claude dari Anthropic, keduanya perusahaan rintisan asal SF, menandai siklus baru. Teknologi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) menjadi booming terkini, mirip dengan booming yang kami alami 12 tahun lalu.


Sektor AI kembali melambungkan harga properti. Kami kembali menyaksikan puluhan orang mengantre apartment viewing dan berebut tempat tinggal.


Harga sewa apartemen di San Francisco kembali menjadi paling mahal di AS. Menurut data terkini dari perusahaan properti Zumper, pada bulan September 2026 harga sewa apartemen studio mencapai $2.750/bulan, 1 kamar tidur $4.250/bulan dan 2 kamar tidur sudah lebih dari $6.000/bulan.


Kami sudah mengalami satu siklus, dan kini memasuki siklus baru. Entah apa yang akan terjadi dengan siklus AI ini. Yang jelas kami sangat bersyukur bisa tetap tinggal di tempat yang indah dan dinamis, di San Francisco, sepanjang siklus 12 shio.

11 TAHUN DI SAN FRANCISCO

Minggu, 14 September 2025

Sebelas tahun lalu saat pertama kali menginjakkan kaki di San Francisco, kami tinggal di penginapan bernuansa abad ke-19 bernama San Remo di kawasan North Beach, yang sudah berdiri sejak 1906.


San Remo Hotel, San Francisco - September 2014

Daerah North Beach ini dulunya dikenal sebagai kantung pemukiman imigran asal Italia. Dari sini asalnya istilah “Little Italy” untuk menyebut area seluas 1 km persegi ini.


Sejak tahun 1800-an memang banyak orang Italia mengadu nasib di San Francisco. Mereka berprofesi sebagai nelayan, buruh pelabuhan, pekerja konstruksi, hingga awalnya dipandang sebagai warga negara kelas dua (“di bawah” imigran dari Inggris).


Namun lama-kelamaan mereka menjadi pemadam kebakaran, polisi, bahkan walikota, termasuk membuka berbagai macam bisnis. Salah satu pebisnis ini adalah Amadeo Pietro Giannini.


A.P. Giannini mendirikan Bank of Italy, cikal-bakal Bank of America, yang kini adalah institusi keuangan raksasa di AS. Sebagai keturunan Italia, orang tuanya dari kota Genoa, ia melihat bank saat itu sangat diskriminatif dan jarang yang mau melayani kaumnya.


Cerita pendirian Bank of America ini tentu tak asing bagi imigran yang sering dipandang sebelah mata, diremehkan, atau dianggap membawa masalah. Padahal kerja keras dan semangat untuk membangun hidup yang lebih baik, menjadikan kehadiran imigran penting untuk kemajuan suatu bangsa.


Sedihnya lagi, apa yang dialami A.P. Giannini di awal abad ke-20 kini kembali terulang lagi. 


Saat ini, imigran di AS dihadapkan pada suasana yang tidak mengenakkan dan diskriminatif. Lebih-lebih bagi mereka yang berprofesi sebagai pekerja perkebunan, konstruksi, atau sektor informal.


Para perantau yang menggerakkan roda perekonomian dicekam ketakutan.


Ancaman deportasi menanti untuk kesalahan kecil yang dibuat oleh para pendatang, misalnya salah parkir, memancing ikan tanpa izin, atau salah menuliskan cek untuk pembayaran tagihan.


Padahal, Amerika Serikat dibangun di atas cita-cita keberagaman itu. 


Cita-cita yang dituliskan dengan indahnya di bawah patung Liberty, “Give me your tired, your poor, your huddled masses yearning to breathe free.” Sebuah janji untuk memperoleh kebebasan bagi siapa saja tanpa terkecuali.


Harapan yang sama yang masih kami miliki. Kiranya sesama pendatang juga saling menguatkan, “badai” ini pasti akan berlalu. 


Sejarah sudah membuktikan, imigran akan terus bertahan. Seperti kami yang hingga saat ini terus semangat bekerja keras untuk bertahan, membangun dan menikmati hidup sebagai imigran di negara ini.


Tautan cerita lainnya:

10 Tahun di San Francisco

Sabtu, 14 September 2024

Stephen Curry, pebasket asal SF Bay Area, berpose bersama tim tenis meja putri di Olimpiade Paris 2024. Wajah AS yang sesungguhnya (sumber: tangkapan layar Instagram)

Tidak terasa hari ini tepat 10 tahun sejak kami melangkah keluar dari EVA28 dan menginjakkan kaki di Amerika Serikat.
 


Sampai hari ini, kami bersyukur bahwa negara yang sama sekali asing ini bisa menerima kami; begitu pula sebaliknya kami bisa menyesuaikan diri dan merasa nyaman tinggal di sini.


Tentu pertanyaannya, mengapa kami betah?


Untuk menjawabnya, mari berkilas-balik ke Olimpiade Paris 2024 lalu. Ada satu meme/lelucon yang viral tentang tim tenis meja AS. 


Meme (yang cukup rasis) tersebut didasarkan pada kesalahpahaman umum bahwa asal-usul, ras atau penampilan seseorang menentukan kebangsaannya. “Orang Amerika” haruslah dari ras kaukasia, orang Jepang mesti berwajah Asia Timur, dsb. 


Meskipun para atlet pingpong tadi dari keturunan Asia Timur, mereka orang Amerika seutuhnya, lahir dan besar di AS. 


Keragaman latar belakang etnis, termasuk orang Asia, Afrika, Hispanik, dan keturunan Eropa, mencerminkan realitas di AS—bahwa masyarakatnya mungkin tidak sama secara penampilan fisik, tetapi mereka disatukan identitas kebangsaan Amerika.


Sejak didirikan, negara ini dibangun di atas konsep kebebasan dan kesempatan, yang telah menarik imigran dari berbagai latar belakang ras, etnis, dan budaya.


Keragaman ini berperan penting dalam menjadikan AS negara yang maju dan inovatif.


Keturunan imigran, tanpa memandang dari mana asal mereka, berkontribusi besar di berbagai bidang. Perpaduan budaya dan perspektif yang berbeda telah menghasilkan solusi kreatif, teknologi mutakhir, dan perkembangan budaya yang dinamis.


Konsep dan gagasan kebangsaan seperti itulah yang membuat kami belum berpikir untuk pindah. 


Kami, yang tidak berstatus sebagai warga negara AS, diterima dengan tangan terbuka di sini; disediakan kesempatan yang sama, diperbolehkan untuk berkontribusi, tetapi bebas untuk tetap mempertahankan identitas kami sebagai orang Indonesia.


Rasanya memang sulit bagi kami untuk tidak merasa betah di Amerika Serikat.



Tautan cerita lainnya:


7 Taman yang Wajib Dikunjungi di San Francisco

Rabu, 14 Agustus 2024

San Francisco bukan saja terkenal dengan kondisinya yang berbukit-bukit (seperti diceritakan di artikel ini), melainkan juga karena taman-tamannya yang indah dan mudah diakses siapa saja. 

Berikut adalah tujuh taman terbaik yang dapat Anda kunjungi:

Golden Gate Park

Golden Gate Park layaknya oase hijau yang membelah bagian barat kota dengan luas melebihi Central Park di kota New York. Taman ini menawarkan jalur bersepeda, area untuk berjalan kaki, dan piknik, membuatnya sempurna untuk segala aktivitas luar ruangan. Setiap sudut taman penuh dengan keindahan alam, seperti danau Blue Heron atau Spreckels Lake, dan beberapa air terjun mini. Atraksi utama di antaranya Japanese Tea Garden, Botanical Garden, de Young Museum, California Academy of Sciences, dan Conservatory of Flowers.

9 TAHUN DI SAN FRANCISCO

Kamis, 14 September 2023

Siapa yang ingin pindah ke Amerika Serikat? 


Di era Tik Tok dan Threads ini, kami rasa tidak banyak lagi yang tertarik untuk bermigrasi; bahkan sedikit saja orang yang mau untuk sekadar berkunjung di saat liburan. 


Fenomena ini juga terjadi dengan green card lottery, di mana terjadi penurunan peserta hingga 46% untuk DV 2021 dibandingkan dengan sebelum pandemi (berdasar statistik dari travel.state.gov)


California Superbloom di Lands End, San Francisco

Hal yang sangat wajar kalau dihubungkan dengan masifnya persebaran video "menakutkan" tentang AS: mulai dari aksi kekerasan terhadap warga keturunan Asia (Timur) sejak awal pandemi hingga ratusan kasus penembakan di berbagai sekolah. 


Belum lagi berita tentang penutupan berbagai pusat perbelanjaan di San Francisco plus video penjarahan toko-toko.


Kami sudah biasa diberondong pertanyaan soal video viral atau aneka pesan WhatsApp yang tersebar di Indonesia tentang situasi "mencekam" di negara adidaya ini. Biasanya pihak yang bertanya akan melanjutkan dengan "apa masih betah tinggal di sana".


Tentu saja kami masih betah. Internet dan media sosial seringkali berbeda jauh dengan kenyataan.


Semuanya kembali kepada perspektif kita memandang hidup ini. Agak filosofis, tapi cukup akurat untuk menjelaskan sikap kami.


Apakah Anda memilih untuk fokus pada hal-hal buruk sehingga mengabaikan keindahan di sekeliling Anda? Atau, bisa kah Anda melihat keindahan dan kebaikan di antara hal-hal buruk? 


Nasi Uduk Komplit

Apa kebaikan yang kami lihat? Soal yang sederhana saja, ragam makanan. Bumbu dan bahan baku khas masakan Indonesia mudah ditemui di San Francisco, tempat kami tinggal. Mudah sekali untuk menikmati nasi uduk atau sayur asem. 



Hal lainnya, kami punya keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi yang jauh lebih baik dengan tinggal di San Francisco. Seusai bekerja, antara Senin sampai Jumat, kami bisa melepas lelah di pantai yang jaraknya hanya 15 menit berkendara.


Dalam skala yang lebih besar, kesempatan terbuka lebar di Amerika Serikat. Banyak perusahaan asal AS punya CEO yang asal-usulnya dari keturunan imigran (bukan berkulit putih), misalnya Microsoft, Google, dan Nvidia. 


Sistem sosial yang memungkinkan anak imigran menjadi pucuk pimpinan, punya kelemahan dari sisi ketertiban dan keteraturan. Tapi tentunya dampak negatifnya jauh lebih kecil dari sisi positifnya.


Dari 121 kilometer persegi luas total kota San Francisco, daerah Tenderloin yang sering menjadi sorotan itu (pusat kaum tunawisma) luasnya tidak sampai 1 km persegi. Apa kita mau berkutat dengan keburukan di 1 km persegi itu atau memilih untuk menghargai keindahan dan kebaikan yang ada di 120 kilometer persegi lainnya?


Jika meminjam analogi Alphonse Karr dari tahun 1853: "Let us try to see things from their better side: You complain about seeing thorny roses bushes; Me, I rejoice and give thanks that thorns have roses".


Kami memilih untuk menghargai keindahan bunga mawar, bukan mengeluhkan tangkainya yang berduri.


Tautan cerita lainnya:


8 TAHUN DI SAN FRANCISCO

Rabu, 14 September 2022

Ini tahun ke-8 sejak kami pindah dari Jakarta ke San Francisco. Kalau diibaratkan masa jabatan Presiden AS, sudah dua periode. 

PENGUMUMAN PEMENANG DV LOTTERY 2023

Jumat, 13 Mei 2022

Selamat kepada para pemenang DV Lottery 2023!


Bagi yang sudah mendaftar DV Lottery 2023 pada bulan Oktober - November 2021 lalu, anda bisa melihat pengumuman pemenang di situs resmi:


Electronic Diversity Visa Program (state.gov)



Status pemenang dapat diakses dari 7 Mei 2022 sampai dengan 20 September 2023.


© ceritasf 2017. Diberdayakan oleh Blogger.
Back to Top