6 TAHUN DI SAN FRANCISCO

Senin, 14 September 2020
Half Dome, El Capitan
Keindahan Yosemite yang jadi wallpaper komputer Mac

Tidak terasa lebih dari setengah dekade kami pindah dari Jakarta ke San Francisco. 


Tahun keenam ini kami sudah mulai stabil secara keuangan dan mulai berniat untuk kembali melakukan hobi lama, traveling alias jalan-jalan.


Hobi kami ini sudah jarang dilakukan, mengingat sebagian besar dana yang kami miliki terpakai untuk bertahan hidup dan berbagai pengeluaran untuk menetap di AS.


Target traveling kami tidak muluk-muluk, setidaknya bisa mengunjungi negara-negara bagian yang berbeda di Amerika Serikat ini.


AS ini sangat luas. California, negara bagian tempat kami tinggal, ukurannya kira-kira setara dengan pulau Sumatra. Sementara luas daratan AS kira-kira 20 kali lipat California. 


Saking luasnya Amerika Serikat, 11% dari 330 juta penduduknya tidak pernah bepergian keluar dari batas negara bagian tempat mereka dilahirkan. Sekitar 60% lainnya hanya pernah berkunjung ke 8 negara bagian lain. 


Petualangan kami dimulai dengan mengunjungi Taman Nasional Yosemite, masih di California juga sebenarnya. Kami pernah berusaha mengunjungi taman nasional yang digunakan sebagai ‘wallpaper’ standar komputer Apple Mac. 

 

Upaya kami di tahun 2017 itu “digagalkan” kebakaran hebat yang membuat kami harus evakuasi meninggalkan penginapan. Namun akhirnya kami bisa menikmati keindahan Half Dome dan El Kapitan di Oktober 2019 lalu.


Kuno & modern di Meksiko

Selanjutnya kami menjelajah ke Selatan, mengunjungi teman di Mexico City, November 2019. California dulunya bagian dari Meksiko, sebelum negara AS berdiri. 


Kami bisa menyaksikan langsung bagaimana budaya dari orang-orang Hispanik yang mempengaruhi California.


Meksiko sendiri merupakan perpaduan dari masa lalu dan masa depan. Piramid Teotihuacan yang berusia hampir 2.000 tahun terletak tidak jauh dari Mexico City yang penuh bangunan modern, seperti Museum Soumaya dan perpustakaan pusat seperti tampak dalam foto. 


Sebagai penutup 2019, kami mengunjungi kota New Orleans di negara bagian Louisiana saat libur Natal. Kota ini penuh dengan sejarah Amerika, termasuk sejarah gelap perbudakan. Kami mengunjungi Whitney Plantation, bekas perkebunan yang diubah jadi museum dan didedikasikan untuk mengenang penderitaan para budak. 


New Orleans, kota bersejarah

Kami sangat antusias menyambut 2020, menyusun rencana-rencana, namun datanglah bencana yang tak terduga, wabah akibat virus corona. 


Ketika media massa di AS mulai memberitakan penyakit mulai terdeteksi di Seattle, kami masih belum terdampak.


Bulan Maret 2020 kami menyempatkan liburan singkat ke Mendocino, kota pesisir penghasil minuman anggur ke arah Utara dari San Francisco. Jaraknya seperti perjalanan antara Jakarta-Cirebon. 


Tepat seminggu setelah kami kembali dari Mendocino, kota San Francisco mengumumkan kebijakan 'Shelter-in-Place' alias partial lockdown


California pada umumnya, dan San Francisco khususnya, menerapkan aturan karantina yang lebih ketat dari kota dan negara bagian lainnya. Hanya layanan vital yang boleh tetap buka, yaitu rumah sakit, supermarket, SPBU, dan bank. Sisanya mesti tutup.


Pesisir Mendocino yang memukau

Mulai Maret 2020 kami harus bekerja dari rumah, membatasi aktivitas di tempat umum, dan melupakan semua rencana jalan-jalan. 

 

Tahun keenam kami di Amerika hanya diisi dengan pemandangan kamar tidur, dapur, dan ruang makan yang sekaligus juga menjadi tempat kerja kami sekarang.


Kerja, yang sebelumnya sering dipandang sebagai kewajiban, kini menjadi kemewahan. Wabah COVID-19 ini membuat perekonomian AS kacau. 


Teman dan kenalan kami di sini banyak yang diberhentikan atau dikurangi jam kerja (termasuk berkurang pendapatannya). Kami berdua sungguh sangat-sangat beruntung, masih ada mata pencarian yang dapat diandalkan.


Masa-masa dalam pengaruh pandemi coronavirus ini menjadikan kami lebih mensyukuri hal penting yang sering tidak disadari, yaitu kesehatan dan kesempatan untuk hidup. Enam bulan sejak Maret 2020 membuat kami benar-benar menghargai badan yang sehat, tak kurang suatu apapun.


Tentu seperti miliaran penduduk dunia lain, kami juga berharap-harap cemas mengikuti usaha para ahli biotek mengembangkan vaksin COVID-19. Sembari kami terus berupaya bertahan hidup di negara perantauan ini.

Tautan cerita lainnya:

6 komentar:

  1. Hi Kak thank u buat ceritanya yg menginspirasi, kalo boleh tau kalian berdua bekerja apa ya disana ? bidang apa, buat masukan dan pertimbangan saja, trimakasih sukses sehat selalu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi, terima kasih sudah mampir ke sini. Kami bekerja sebagai analis real estate dan konsultan bahasa.

      Hapus
  2. Salam sejahtera bapak/ibu, saya mau tanya (mohon maaf jika sudah pernah atau bahkan sering ditanyakan sebelumnya). Untuk DV program, lebih baik masukan 2 entry (suami istri) atau salah satu saja ya?
    Lalu misalkan paspor yang kita input saat mengisi form lotre expired saat pengumuman dan kita terpilih, apakah akan jadi masalah? Atau bisa pakai paspor baru dan lampirkan paspor lama?

    Terjma kasih pak/bu, sehat dan sukses selalu. Tuhan berkati

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mendaftarkan dengan 2 nama (nama anda dan pasangan) memperbesar peluang untuk terpilih. Tidak masalah, anda bisa membawa pasport lama dan baru apabila terpilih dan dipanggil wawancara nanti.

      Hapus
    2. Siap pak/bu terima kasih. Sehat dan sukses selalu dan Tuhan memberkati

      Hapus

© ceritasf 2017. Diberdayakan oleh Blogger.
Back to Top