Jumat, 28 Februari 2020

BAWA PLASTIK SENDIRI

San Francisco tidak hanya terdepan  di dunia dalam kemajuan teknologi, juga soal kepedulian lingkungan hidup. Aturan yang dikeluarkan pemerintah kota SF ditujukan untuk menjaga alam di sekitar kita, terutama soal sampah yang tidak bisa terurai atau didaur ulang.

San Francisco adalah kota pertama di Amerika Serikat yang melarang penggunaan kantong plastik sejak tahun 2007. Pelarangan ini kemudian diikuti oleh seluruh negara bagian California pada tahun 2016.

Contah lainnya adalah penggunaan styrofoam sebagai bungkus makanan yang dilarang di SF sejak 2007. Bahkan mulai 2017 produk elektronik atau alat rumah tangga yang dijual di toko-toko di SF tidak boleh lagi dikemas menggunakan gabus sintetis ini.

Selain itu, mulai 2019 lalu kafe dan restoran mesti menyingkirkan sedotan plastik sekali pakai. Alternatifnya disediakan sedotan kertas atau yg terbuat dari serat bambu. Tentu saja kalau sedotan plastik saja tidak boleh digunakan, apalagi cup plastik ala es kopi kekinian.

Lalu kalau plastik “dilarang”, bagaimana cara membungkus makanan?


Kemasan makanan mudah terurai
Pertama pakai kemasan yang penampakannya mirip plastik tapi terbuat dari tanaman, bukan minyak bumi. Cup plastik tapi berbahan dasar serat tanaman jagung. Plastik berbahan dasar tanaman ini bisa dijadikan kompos.

Kedua, tetap pakai kemasan plastik tapi yang bisa digunakan berulang kali.

Untungnya, sejak tinggal di Jakarta dulu kami sudah terbiasa untuk membawa kantong belanja sendiri setiap berbelanja ke supermarket. Kebiasaan ini pun berlanjut di San Francisco, kami selalu menyimpan dan membawa kantong belanja di tas atau mobil, sehingga tersedia kapan pun saat diperlukan.

Kami juga jadi terbiasa untuk menyimpan kemasan plastik bungkus makanan takeaway. Plastik kotak makanan ini aman untuk kesehatan, bahan bakunya berbeda dari kantong kresek.

Biasanya saat berkumpul dan ada acara masak-masak bersama, teman-teman yang hadir membawa tempat makan kosong. Jika ada sisa, tinggal kami bagi-bagi dan dibawa pulang dalam kemasan yang ditenteng dari rumah.

Jadinya kami mesti mengubah kebiasaan, memang tidak gampang. Awalnya terasa sebagai beban, namun lama-lama kami sudah otomatis membawa kotak sendiri demi mengurangi sampah.