Jumat, 14 September 2018

4 TAHUN DI SAN FRANCISCO

Tidak terasa ternyata sudah empat tahun kami tinggal di San Francisco (SF) sejak kami menginjakkan kaki pertama kali di Amerika Serikat pada tanggal 14 September 2014. Begitu banyak pengalaman baru yang sudah kami lalui selama tinggal dan bekerja di sini, sehingga waktu terasa berjalan begitu cepat selama empat tahun ini.

A new day, a new adventure!” – begitulah moto hidup kami saat ini. Setiap hari penuh tantangan dan petualangan baru.

Hidup kami pun telah berubah banyak sejak pertama kali kami menginjakkan kaki di San Francisco empat tahun silam. Masih ingat kan cerita kami tahun lalu, saat memperingati tahun ketiga kami di sini (3 TAHUN DI SAN FRANCISCO)? Saat itu petualangan hidup kami penuh dengan jadwal dan rencana mengeksplorasi tempat-tempat baru.

Menjelang pergantian tahun, resolusi tahun baru 2018 pun penuh dengan rencana perjalanan ke tempat-tempat dan kota-kota yang belum pernah kami datangi. Saat tahun 2017 berakhir, kami sudah memiliki tiket pesawat dan hotel hingga pertengahan tahun 2018. Februari ke New York City, Maret mengunjungi Las Vegas, dan Mei ke Chicago. Di luar itu, daftar rencana traveling impian kami masih panjang hingga akhir tahun.

Namun apa yang direncanakan seringkali meleset. Rejeki lain datang dan mengubah total rencana kami tahun ini. Kami diberi kesempatan untuk membeli rumah impian di San Francisco!

Kami tidak pernah bermimpi akan memiliki rumah di sini. Kota ini terkenal sebagai kota termahal di Amerika Serikat. Harga sewa dan harga jual rumah di San Francisco bahkan telah melebihi New York City. Median harga rumah mencapai USD 1,61 juta dan median harga sewa apartemen satu kamar tidur mencapai USD 3.400/bulan.

Alasannya? Selain karena ukuran SF yang kecil (kurang dari 1/5 luas Jakarta), permintaan (demand) akan perumahan di sini pun sangat tinggi. Penyebab utamanya banyak perusahaan teknologi informasi paling berkembang dan maju di dunia memiliki kantor pusat di San Francisco; misalnya: Apple, Google, Facebook, Instagram, Uber, Twitter, AirBnB, Pinterest, Yelp, Dropbox, dan masih banyak perusahaan besar maupun startup berbasis teknologi lainnya. Pekerja sektor ini bukan hanya orang Amerika Serikat, melainkan juga datang dari seluruh penjuru dunia.

Tidak heran kalau pasokan rumah di San Francisco tidak sanggup menampung seluruh pegawai perusahaan-perusahaan tersebut. Akibatnya, persaingan untuk mendapatkan tempat tinggal sangat ketat dan harga sewa maupun harga jual pun melambung tinggi.

Untungnya Pemerintah Kota San Francisco punya kebijakan guna memberikan pilihan tempat tinggal dengan harga terjangkau. Program ini disebut Below Market Rate (BMR) Housing serta ditujukan untuk keluarga kelas menengah dan menengah bawah.

Keluarga yang berhak mengikuti program pembelian rumah di bawah harga pasar ini harus memiliki penghasilan antara 80% - 120% dari Area Median Income (AMI) di San Francisco. Besar batas penghasilan bervariasi tergantung jumlah anggota keluarga, sebagai contoh tahun 2018 ini ditetapkan USD 75.750 - USD 113.650/tahun untuk rumah tangga dengan dua orang anggota (suami-istri atau orang tua tunggal dengan satu anak).

Tentu saja lebih banyak permintaan daripada pasokan unit BMR, maka untuk mendapatkan sebuah unit calon pembeli harus mengisi formulir pendaftaran dan pemenangnya akan ditentukan dengan sistem pengundian (lotere).


Proses membeli rumah ini memakan waktu cukup lama, yaitu sekitar empat bulan dari sejak melihat unit yang ditawarkan melalui open house. Tahapan-tahapannya secara garis besar yaitu mengumpulkan dokumen-dokumen yang diperlukan untuk mendaftar, memasukkan aplikasi, penarikan lotere, pengumuman pemenang, verifikasi data oleh Pemerintah Kota San Francisco beserta bank penyalur KPR (kredit pemilikan rumah), membuka akun escrow, inspeksi rumah, sampai akhirnya transaksi selesai dan pembeli bisa mendapatkan kunci rumah.


Tahap yang memakan waktu paling lama saat proses verifikasi data oleh Pemerintah Kota San Francisco dan bank penyalur KPR, karena Pemerintah Kota harus yakin bahwa pendapatan calon pembeli tidak melebihin batas maksimal yang sudah ditentukan. Namun sebaliknya bank KPR harus memastikan bahwa calon pembeli mampu membayar uang muka dan cicilan rumah.

Begitu banyak hal baru yang kami lalui dan pelajari selama proses transaksi jual-beli rumah pertama kami di San Francisco, terutama dalam hal pengumpulan dokumen-dokumen yang diperlukan – dari kantor pajak, perusahaan tempat bekerja, dan pemilik rumah kontrakan tempat kami tinggal saat itu, dll.; memahami istilah-istilah hukum dalam kepemilikan rumah; meneliti dokumen kondisi rumah yang tebalnya mencapai hampir 500 halaman; mengerti perhitungan biaya-biaya yang harus dibayarkan (closing cost); sampai mencari dan menunjuk perusahaan inspeksi dan asuransi rumah.

Stres? Pastinya! Setiap akhir pekan rasanya selalu ada “pekerjaan rumah” dari bank. Pihak Bank biasanya mengirimkan e-mail pada hari Jumat berisi daftar dokumen yang harus disiapkan dan dikumpulkan. Sepanjang akhir pekan kami mencari informasi untuk memahami dan menyiapkan semua yang diminta.

Kami menyadari bahwa keseluruhan proses ini bukanlah sesuatu yang instan, melainkan hasil dari usaha kami selama 3,5 tahun berdomisili di Amerika.

Salah satunya hasil proses tersebut, sejak awal tinggal di sini kami berusaha untuk membangun rekam jejak dan peringkat kredit (credit history & credit score) yang baik, yang merupakan pertimbangan utama bagi bank untuk menyalurkan Kredit Pemilikan Rumah. Soal credit score ini pernah kami ulas di artikel "Credit Score, Rekam Jejak Keuangan Anda".

Selain itu, kami juga memiliki laporan pajak (tax return) dan bukti pendapatan (W2) yang lengkap selama tiga tahun terakhir (2015-2017), yang merupakan dokumen penting yang disyaratkan oleh Pemerintah Kota SF maupun bank penyalur KPR.

Hal lain, kami juga tidak memiliki hutang yang besar – hanya penggunaan kartu kredit yang selalu dibayar lunas setiap bulan – dan rasio pendapatan, pengeluaran, dan tabungan kami setiap bulan baik sehingga bisa menabung untuk membayar uang muka dan biaya-biaya transaksi rumah lainnya. Tentunya semua itu bukan sesuatu yang bisa disiapkan hanya dalam waktu semalam.

Berdasarkan pengalaman ini, kami menyadari pentingnya membangun kredibilitas (terutama catatan pajak dan kredit yang baik) bagi para imigran baru yang harus dimulai sejak pertama kali pindah ke Amerika Serikat. Jika disiplin melaporan pendapatan, membayar pajak, serta melunasi semua utang, Anda akan mudah mendapatkan kredit untuk pembelian besar, seperti properti atau kendaraan bermotor.

Setelah hampir empat bulan mengurus ini-itu, akhirnya kami bisa menggengam kunci rumah pertama kami di San Francisco. Dengan sedikit renovasi, yaitu mengecat ulang dinding dan mengganti karpet, unit mungil ini pun siap untuk ditinggali. Tak terasa sudah dua setengah bulan kami tinggal di rumah baru kami. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, yang artinya masih banyak petualangan baru yang akan kami jalani sebagai 'homeowner'.

09.14.2014 - 09.14.2018

6 komentar:

  1. Mohon informasinya kapan pendafaran green card lottery dimulai?saya coba cari kok nggak ketemu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Coba anda cek kembali website: https://www.dvlottery.state.gov/ bulan Oktober 2018 nanti.

      Hapus
  2. Akhirnya punya rumah di LN, selamat ya...sepertinya sedang sibuk, udah lama gak ada update blognya,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir ke blog kami lagi. Betul, kami banyak kesibukan terutama menjelang akhir tahun.

      Hapus
  3. LUAR BIASA !!!

    Di tahun yang sama, saya merantau ke Jakarta.
    Jadi sama2 4 Tahun.
    hehe..
    Dan sekarang, ingin bermigrasi ke Amerika atau Kanada.
    Mudah2n ada jalan.
    Aamiin.

    Terima Kasih Cerita SF dalam berbagi Informasinya.
    SANGAT MENGINSPIRASI.
    :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir di blog kami. Semoga anda terus sukses & dibukakan jalan untuk meraih impian anda!

      Hapus