Kamis, 14 Mei 2015

INDONESIA DAN SEJARAH INDUSTRI KOPI DI AMERIKA SERIKAT

Gerai Peet's pertama di Berkeley, California                 sumber: wikipedia
Warga kota besar umumnya akrab dengan gerai kopi multinasional Starbucks yang tersebar di seluruh dunia.
Perusahaan asal Seattle tersebut mendominasi bisnis "specialty coffee" (kopi kualitas istimewa). 

Namun tahukah Anda bahwa sejarah perusahaan dengan penguasaan pasar sekitar 33% di AS dan menghasilkan 15 miliar dolar /tahun (setara Rp 195 triliun) ini sejarahnya terhubung dengan Indonesia?


Kampiun berlogo putri duyung ini didaulat sebagai raksasa "second wave coffee" dari AS. Namun tidak banyak yang tahu, kebesaran itu berkat jasa Alfred Peet, pria yang pernah tinggal di Jawa dan Sumatra. Dalam buku "The Starbucks Story", Peet disebut sebagai "Guru Spiritual Starbucks". Dua dari tiga orang pendirinya, Jerry Baldwin dan Gordon Bowker, pelanggan setia kopi yang dijual Peet. Mereka terinspirasi kopi olahan pria asal Belanda tersebut.

Alfred Peet di depan roasting machine.

Alfred H. Peet inilah yang dinobatkan sebagai pencetus "Revolusi Kopi Gelombang Kedua" (second wave coffee) di AS. Beliau lahir di Alkmaar, Belanda. Ayahnya, Henry Peet, punya usaha kecil pengolahan kopi. Dari situlah Peet belajar soal seluk beluk minuman berkafein. 

Saat pecah Perang Dunia II Peet tengah bekerja di perusahaan importir teh dan bertugas di New Zealand. Tahun 1948 beliau mendarat di Jawa. Di sini lah kecintaannya akan kopi kembali bersemi, dengan mengkampanyekan keunggulan kompleksitas rasa dan aroma kopi jenis Arabika daripada Robusta (yang saat itu lebih umum dibudidayakan).


Tahun 1955, sentimen antiasing di Indonesia, Peet menyudahi petualangannya di Indonesia dan memutuskan pergi ke Amerika Serikat. Beliau memilih kawasan Pantai Barat dan menetap di Berkeley. Berbekal dana warisan ayahnya, ia membuka bisnis "Peet's Coffee and Tea" dan menjual biji kopi dalam kemasan sekaligus menyediakan 6 kursi jika pelanggan ingin minum di tempat.


Pria berkacamata ini prihatin melihat warga Amerika Serikat yang makmur meminum kopi robusta kualitas rendah, yang menurut sebutannya "ransum jatah perang". Mulanya sajian kopi di kedai Peet's dianggap terlalu "kental dan berat" bagi lidah Amerika. Pelanggan-pelanggan awalnya kebanyakan orang asal Eropa, yang kesulitan menemukan kopi hitam berkualitas tinggi sesuai selera mereka.   


Lambat laun bisnisnya berkembang pesat, mengingat Berkeley saat itu pusat berkumpul kaum intelektual, yang adaptif terhadap hal-hal baru. Saking pesatnya, kualitas kopi istimewa ala Peet menginspirasi para pendiri Starbucks menetapkan standar minuman mereka, yang kemudian mendunia. 


Sampai kini, warga California sangat bangga dengan Peet's walaupun sudah bukan dimiliki oleh keluarga pendirinya. Outlet Peet's Coffee and Tea berjumlah sekitar 200, mayoritas ada di Pantai Barat AS.

2 komentar:

  1. Dear CeritaSf,

    Saya dan suami berencana untuk mengunjungi SF untuk berlibur bulan Mei ini, apakah saya boleh bertanya beberapa hal seputar SF lebih detail lewat email?
    Terima kasih sebelumnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anda bisa menanyakan hal tersebut di blog ini. Happy holiday!

      Hapus