UPDATE DV-2020: AKHIR YANG MEMBAHAGIAKAN

Minggu, 16 Mei 2021
Larangan bagi imigran untuk masuk ke AS akhirnya dicabut oleh Presiden Biden.

Perubahan peraturan ini menyebabkan sebagian peserta DV-2020 bisa menginjakkan kaki di Amerika Serikat sebelum visanya hangus.

Di antara pemenang DV-2020 yang hampir batal berimigrasi itu, salah satunya membagikan suka dukanya untuk pembaca CeriaSF.

Berikut ini cerita perjuangan mereka:

Sesuai janji ke CeritaSF, kami melanjutkan berbagi cerita pengalaman dalam mengejar green card setelah memenangkan DV-2020 lottery.

Kami istri dan anak-anak adalah derivative beneficiaries dari suami yang merupakan DV-2020 selectee, yang sudah lebih dulu mendapatkan visa dan masuk ke AS di awal Maret 2020. 

Suami hadir sendirian untuk wawancara visa pada awal Januari 2020 sesuai jadwal yang diberikan. 

Sebelumnya suami sempat menelepon Kedubes AS untuk menanyakan apakah bisa keluarga melakukan wawancara susulan dan dijawab bisa asalkan masih dalam tahun fiskal yang sama. 

Pada saat itu suami memintakan wawancara susulan untuk istri dan anak-anak sebelum akhir tahun fiskal DV-2020, yaitu 30 September 2020. 

Jadwal wawancara selanjutnya dimohonkan melalui email ke Kedutaan AS di Jakarta. 

Awalnya sesederhana itu. Istri dan anak-anak direncanakan ikut wawancara susulan sekitar bulan Juli atau Agustus 2020. 

Saat itu sama sekali tidak terbayangkan adanya larangan berimigrasi yang dikeluarkan oleh pemerintah AS akibat pandemi. Larangan masuk yang berdampak panjang bagi semua pemenang DV-2020 yang belum memegang visa di tanggal 23 April 2020.

Di awali dengan meluasnya wabah Covid-19 di bulan-bulan awal 2020, mengakibatkan proses visa di kedutaan besar Amerika Serikat di seluruh dunia menjadi terkatung-katung, termasuk di Jakarta. 

Dari cerita beberapa teman seperjuangan, mereka yang sudah menerima panggilan wawancara di bulan Maret 2020 tiba-tiba diberitahu bahwa jadwal mereka ditunda tanpa kejelasan waktu.

Sampai akhirnya keluar Presidential Proclamation 10014 (P.P.10014) yang efektif berlaku mulai 23 April 2020. Instruksi Presiden itu mencegah masuknya orang asing ke AS dengan alasan supaya tidak merebut pekerjaan dari penduduk AS akibat wabah Covid-19. 

Peraturan ini termasuk mencegah masuknya imigran yang pada 23 April 2020 belum punya visa imigrasi. Awalnya P.P. 10014 ini berlaku hanya 60 hari dan seharusnya berakhir di 23 Juni 2020. Namun ternyata masa berlaku diperpanjang sampai dengan 31 Desember 2020. 

Ketika membaca berita ini, kami menyadari bahwa hal ini merupakan bencana besar bagi para pemenang DV-2020 yang belum pegang visa di 23 April 2020. Hal ini karena adanya batas akhir penerbitan diversity visa untuk tahun fiskal 2020 yaitu paling lambat 30 September 2020. 

Dengan adanya P.P.10014, semua kedutaan AS di seluruh dunia menghentikan proses penerbitan visa, termasuk visa imigran untuk DV-2020. 

Bila diversity visa tidak diterbitkan sampai 30 September 2020, berarti hangus dan sia-sia lah kemenangan kami dalam DV Lottery 2020.

Awal Juli 2020 kami melihat berita di mana ada sekelompok tim pengacara imigrasi di AS yang mengajukan beberapa gugatan hukum terhadap pemerintah AS atas nama ribuan para pemenang DV-2020. 

Bahkan ada gugatan yang dilakukan pro bono, alias gratis, yang dilakukan oleh Asosiasi Pengacara Imigrasi AS (AILA). 
Gugatan-gugatan tersebut, karena dinilai serupa oleh pengadilan, akhirnya dikonsolidasikan sebagai kasus 'Gomez v Pemerintah AS'.

Mulailah kami berusaha mencari sumber-sumber berita untuk mengikuti perkembangan terbaru soal gugatan dan nasib pemenang DV-2020. 
Pusat kota SF yang sepi selama pandemi

Kami memantau berbagai blog dan YouTube channel yang berkaitan dengan perkembangan kasus ini. 

Kami juga mengikuti laman Facebook milik para pengacara yang menangani kasus Gomez v Pemerintah AS ini.

Singkat cerita, seperti yang sudah pernah ditulis juga dalam blog CeritaSF ini, pada 4 September 2020 Hakim Amit Mehta yang menyidangkan kasus Gomez v Pemerintah AS mengeluarkan putusan sela. 

Putusan ini berlaku untuk semua pemenang DV-2020 tetapi diprioritaskan dulu bagi yang namanya terdaftar sebagai penggugat. 

Putusan sela ini memerintahkan supaya pemerintah AS melanjutkan proses penerbitan visa imigran bagi DV-2020 lewat percepatan proses karena batas waktu semakin dekat. Untungnya kami yang tidak memasukkan nama sebagai penggugat ternyata juga bisa memanfaatkan hasil sidang ini.

Putusan sela tersebut dikeluarkan Jumat petang 4 September 2020 waktu AS, atau Sabtu pagi WIB, yang mana Kedubes AS di Jakarta tutup. Kebetulan Senin 7 September 2020 juga libur Labor Day di AS. Jadi kami menunggu hingga Selasa untuk mulai mengirimkan e-mail menanyakan kapan kami bisa wawancara ke Kedutaan.

Jawaban mereka ternyata masih sama seperti sebelumnya yaitu belum ada kepastian kapan layanan konsuler akan dimulai kembali. Kami mencoba menghubungi RS Premier Bintaro, yang ditunjuk oleh Departemen Luar Negeri AS untuk melakukan tes kesehatan bagi calon imigran dari Indonesia, jawabannya juga tidak ada kejelasan. Mereka mengatakan harus ada jadwal wawancara visa terlebih dulu.

Pada 10 September 2020 pagi, kami membaca putusan Hakim Mehta ini dimuat di website resmi Departemen Luar Negeri AS. Tiba-tiba sekitar setengah 11 pagi telepon genggam kami berdering dengan nomor yang tidak dikenal. Untungnya saat itu kami angkat teleponnya, ternyata penelpon mengatakan dirinya dari Kedutaan Besar AS di Jakarta. 

Kami sempat ragu apakah ini benar-benar dari Kedubes AS. Namun beliau menyampaikan data-data kami, sehingga akhirnya kami yakin bahwa memang benar ini dari Kedutaan. Petugas Kedutaan AS tersebut lalu menanyakan apakah kami masih mau melanjutkan proses DV-2020. 

Beliau menjelaskan apabila visa imigrasi untuk kami disetujui baru bisa masuk AS setelah 31 Desember 2020, sejalan dengan rencana berakhirnya P.P.10014. Namun jika ternyata Presiden Amerika memperpanjang P.P. tersebut, ada resiko visa kami tidak bisa dipakai. Beliau menanyakan apakah kami masih ingin melanjutkan proses, yang mana segera kami jawab mau. 

Beliau menginstruksikan kami segera membuat janji untuk menjalani tes kesehatan dengan RS Premier Bintaro setelah telepon ini ditutup. Kami sempat menyebutkan bahwa beberapa hari lalu kami sudah menanyakan ke RS Bintaro dan dijawab bahwa kami harus punya jadwal wawancara lebih dulu. 

Beliau menukas bahwa kondisinya berbeda; disebutkan bahwa pagi itu ada perintah dari pusat terkait proses visa DV-2020 ini. Jadwal wawancara akan diberikan setelah kami mendapat jadwal tes kesehatan. Hal yang berkebalikan dari proses DV normal sebelum wabah Covid-19. Akhirnya visa imigrasi untuk kami diterbitkan juga.

(Detail wawancara & tes kesehatan akan dimuat di artikel terpisah. - Red.)


Sambil menunggu kami mengikuti sidang gugatan yang sedang berjalan dengan tuntutan mencabut P.P.10014 dan berita pemilu di AS. Kami berdiskusi juga dengan beberapa rekan DV-2020 melalui WhatsApp tentang persiapan keberangkatan ke AS. Dalam bayangan kami segera setelah P.P.10014 kedaluarsa di 31 Desember 2020, kami bisa segera berangkat ke AS.

Di luar dugaan, 1 Januari 2021 kami mendapat berita bahwa PP10014 diperpanjang oleh Pemerintah AS sampai dengan 31 Maret 2021. Padahal semua visa peserta DV-2020 yang diterbitkan September 2020 pasti sudah kedaluarsa di 31 Maret 2021. 

Harapan tinggal ada 3 yaitu: ada gugatan hukum yang menang dan mencabut P.P.10014, ada putusan hakim yang memperpanjang masa berlaku visa kami, atau Pemerintah AS yang baru dilantik mencabut P.P.10014 tersebut sebelum visa kami hangus.

Kami menjadi lebih rajin lagi mengikuti berita perkembangan kasus Gomez v Pemerintah AS. Ketika ada yang memprakarsai membuat petisi dalam website Gedung Putih dengan tuntutan mencabut larangan imigrasi. 

Kami juga mengisi dan meminta teman-teman dan saudara untuk mengisi petisi tersebut. Pada waktu itu CeritaSF juga membantu mengisi dan memuat petisi tersebut dalam blog ini dan untuk itu kami sangat berterima kasih. 

Petisi tersebut membutuhkan 100.000 tanda tangan elektronik dalam waktu tertentu supaya bisa lolos ke meja Sekretaris Kabinet dan diproses. Sayangnya petisi gagal mencapai target tanda tangan. 

Ternyata ketika Presiden baru dilantik, format website Gedung Putih berubah dan petisi ini juga menghilang.
Beberapa orang di antara sesama rekan DV-2020 aktif bertukar informasi seputar berita gugatan hukum yang masih berlangsung. 

Selain kasus Gomez v Pemerintah AS kami juga mengikuti kasus Anunciato v Pemerintah AS dan Jacob v Pemerintah AS yang berkaitan dengan DV-2020. Kami bahkan mengikuti beberapa sidang yang ditayangkan langsung melalui Zoom dan selalu waktunya tengah malam di Indonesia. 

Untuk sidang yang tidak ditayangkan melalui Zoom, kami pantau melalui akun twitter para pengacara dan pemerhati kasus DV-2020. Kami juga memasukkan data kami secara online saat tim pengacara yang menangani kasus meminta data siapa-siapa saja pemenang yang sudah memegang visa imigrasi yang diterbitkan September 2020. Link untuk data tersebut juga pernah dimuat di blog CeritaSF.

Rasanya waktu berjalan lambat saat kami mengikuti perkembangan gugatan-gugatan namun belum juga ada hasil yang signifikan. Di sisi lain kesempatan untuk terbang ke AS sudah makin sempit karena visa kami akan hangus di awal Maret 2021. 

Sampai akhirnya 19 Februari 2021 terbitlah perintah dari pengadilan dalam kasus Gomez v Pemerintah AS. Hakim Mehta menyuruh agar Pemerintah AS memperlakukan visa imigrasi DV-2020 seolah baru diterbitkan di tanggal yang sama dengan jatuhnya vonis dari pengadilan, yang waktunya belum ditetapkan. 

Jika P.P.10014 dicabut atau kedaluarsa dan tidak diperpanjang di 31 Maret 2021, maka visa bagi peserta DV-2020 harus dianggap diterbitkan di hari yang sama dengan tidak berlakunya larangan imigrasi. 

Perintah Hakim Mehta ini sangat melegakan. Walaupun saat itu belum ada kejelasan kapan P.P.10014 berakhir, kami sudah memegang kepastian bahwa visa imigrasi akan tetap bisa dipakai.

Presiden Biden mencabut larangan imigrasi

Di luar dugaan, 24 Februari 2021, tiba-tiba Presiden Biden mencabut berbagai larangan imigrasi dari pemerintahan sebelumnya, termasuk yang tertuang dalam P.P.10014.  

Pengumuman di situs resmi Gedung Putih bahkan secara eksplisit menyebutkan tentang pemenag DV-2020. Kami sangat berterima kasih karena akhirnya kami bisa terbang ke AS. 

Meskipun sudah ada perintah Hakim Mehta, yang artinya 24 Februari 2021 saat P.P.10014 dicabut dianggap seolah-olah sebagai tanggal penerbitan visa kami, namun kami pertimbangkan untuk tidak mengambil resiko terbang melebihi tanggal visa kami kedaluarsa. 

Jadi akhirnya kami mempersiapkan diri untuk segera pergi sebelum tanggal berakhirnya visa kami di awal Maret 2021. 

Waktunya cukup sempit. Selain memesan tiket pesawat, kami juga harus menunjukkan hasil negatif tes PCR swab Covid-19 yang diambil maksimal 72 jam sebelum penerbangan internasional. Kami memilih masuk melalui San Francisco sebagai Point of Entry (POE). 

Syukurlah perjalanan lancar dan proses masuk di POE juga lancar. Kami serahkan paket imigrasi tersegel yang kami terima dari Kedutaan Besar AS Jakarta. Kami juga sudah cetak dan serahkan ke petugas alamat baru untuk pengiriman fisik green card dan SSN, karena kami tidak jadi memakai alamat teman kami yang dulu kami masukkan di formulir DS-260.

Terima kasih kepada CeritaSF yang bersedia memuat pengalaman kami dan juga telah banyak sekali memberikan informasi kepada kami sehingga kami memiliki pengetahuan tentang proses DV ini. Bagi pemenang DV-2020 yang belum mendapat visa dan masih menunggu proses gugatan hukum yang masih berjalan hingga saat ini, kami doakan ada jalan yang terbaik. Semoga sukses untuk pemenang DV-2021 dan calon pemenang DV-2022 yang dalam waktu dekat akan diumumkan.

2 komentar:

  1. Pak mau tanya :
    1. Pada saat pengisiin form DS260 boleh berkali2 atau sekali harus langsung jadi karena takutnyaa ada dokumen yang belum siap ?

    2. Pada saat up load document yg diperlukan apakah yang sudah di terjemahkan Bhs Inggris atau yang asli ?

    3. Scan file maximum berapa KB per document ?

    4. Paspor saya & keluarga baru saja diperpanjang, apakah pada saat pengisian DS260 menggunakan no passport terbaru atau yg lama ( pada saat daftar pake nomor paspor lama ) Terima kasih 🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. 1. Apabila belum selesai mengisi, formulir dapat disimpan untuk dilanjutkan lagi kemudian.

      2. KCC akan memberikan instruksi lebih lanjut untuk mengirimkan dokumen melalui email apabila formulir DS260 sudah diterima. Semua dokumen yang dilampirkan adalah dokumen asli & terjemahannya.

      3. Ukuran tiap dokumen tidak boleh lebih dari 2 MB.

      4. Cantumkan data pasport yang terbaru pada saat pengisian formulir DS260.

      Hapus

© ceritasf 2017. Diberdayakan oleh Blogger.
Back to Top