Selasa, 03 Desember 2019

PENGALAMAN PEMENANG GREEN CARD LOTTERY 2019 (4)

Kami kembali mempersilakan salah seorang pemenang Green Card Lottery untuk membagikan pengalamannya di sini. Satu hal bisa kita ketahui yaitu mitos 'case number' besar tidak berpeluang lolos ternyata tidak benar. Ternyata rekan kita ini berhasil memperoleh green card walaupun nomor urutnya di kisaran 14 ribu sekian.


"Pertama kali saya tahu tentang lotere ini ketika saya masih SMP, yaitu sekitar periode '90-an. Kalau tidak salah waktu itu awal program DV Lottery bergulir dari pemerintah AS.

Ketika itu yang ikut kakak-kakak saya sedangkan saya masih kecil sehingga tidak terlalu tahu juga prosesnya seperti apa; sepertinya masih pakai metode surat-menyurat. Saat itu mereka tidak terpilih.


Singkat cerita saya sudah lupa dengan DV Lottery sampai sekitar tahun 2007-an saya kembali tertarik ikut, hanya belum terlalu serius. Daftar jika ingat, cek pengumuman pas ingat, itu juga kalau nomor referensinya masih disimpan.


Dari beberapa kali mendaftar ini tidak ada satu pun yang lolos (atau kalaupun pernah lolos mungkin terlewat dicek). Begitu terus sampai tahun 2017 saya coba ikut untuk DV2019. Istri ikut pula mendaftar sehingga kami punya 2 nomor lotere.


Beberapa minggu setelah pengumuman DV Lottery di bulan Mei 2018, saya ingat dan mulai cek online. Puji Tuhan, wow, saya dapat kata-kata cinta yang ditunggu-tunggu. Tidak menyangka, submission saya statusnya 'selected' sementara submission istri 'not selected'. Waktu itu perasaan saya bercampur antara kaget, senang, dan juga bingung serta kuatir. Hahaha, biasa lah terkena comfort-zone syndrome. Ini adalah 1NL saya.


Perasaan gembira itu ternyata tidak lama, karena setelah baca-baca informasi yang berstatus 'selected' belum pasti mendapat green card.  Sebabnya bisa karena banyak faktor, mulai dari urutan 'case number', kelengkapan dokumen, hingga jadwal interview. Saya mendapat 'case number' yang besar, 14 ribu sekian. Dari informasi yang saya peroleh, belum ada sejarahnya di tahun-tahun sebelumnya ada yang "tembus" di urutan itu. Maksimal kalau tidak salah paling besar nomor 10 ribuan. Jadi yang saya lakukan waktu itu cuma menunggu dan menyimak 'Visa Bulletin' tiap bulan sambil berharap nomor saya bisa 'current' secepatnya.


April 2019 saya menerima e-mail dari KCC untuk memasukkan dokumen lanjutan. Seingat saya yang diminta sebagai berikut: scan paspor halaman depan, akte lahir beserta terjemahan jika diperlukan, dan SKCK (yang diurus ke Mabes Polri, Jakarta).


Walaupun Visa Bulletin juga masih jauh dari status 'current' untuk 'case number' saya, tapi karena diminta maka segera kami siapkan dan dalam waktu kurang dari seminggu kami sudah kirimkan dokumen yang diminta via e-mail. Awal Mei 2019, saya mendapatkan e-mail kembali dari KCC yang mengatakan bahwa dokumen telah diterima secara lengkap.


Sejak saat itu saya sering login ke CEAC untuk cek status. Pertengahan Juni 2019 saya cek kembali dan puji Tuhan saya sudah mendapatkan jadwal wawancara di Kedutaan AS pada awal Agustus. Ini adalah 2NL saya. Hingga saat itu perasaan saya lebih lega, karena alokasi visa sudah pasti ada, tinggal "masalah interview" saja.


Selang beberapa hari saya dan istri melakukan 'medical check-up' di RS Bintaro. Biayanya kurang lebih Rp 8 juta untuk 2 orang. Setelah itu kami fokus untuk menyiapkan semua dokumen, baik yang penting, yang dirasa penting, yang kurang penting, hingga yang tidak penting. Termasuk kami menyiapkan terjemahan dokumen. Sampai-sampai untuk menerjemahkan saja kami habis sekitar Rp 800.000 karena hampir semua dokumen dibuatkan terjemahannya. We hope for the best and prepare for the worst.


Pada hari wawancara kami berangkat dan tiba sekitar 30 menit lebih awal. Setelah 'security screening' kami diarahkan ke gedung di mana proses wawancara akan dilakukan. Awalnya kami dipanggil ke loket untuk menyerahkan dokumen yang diminta. Pihak Kedutaan AS ternyata meminta dokumen beserta terjemahannya sesuai persyaratan DV Lottery saja, sangat simpel.


Setelah itu kami harus membayar biaya visa per orang $330. Pihak kedutaan di Jakarta saat itu hanya menerima uang tunai atau kartu kredit Visa/Master Card, tidak bisa menggunakan kartu debit.


Selesai proses pembayaran selanjutnya kami menunggu dipanggil. Wawancara berlangsung singkat, mungkin kurang dari 5 menit. Di akhir percakapan kami menerima kertas putih yang berisikan tulisan: “Congratulations!” dan beberapa langkah yang mesti dilakukan selanjutnya.


Mantaplah!


Kami cepat-cepat "kabur" dari US Embassy sebelum pewawancara dari kedutaan berubah pikiran, hahaha…


Berselang seminggu, paspor kami dikembalikan lewat Fedex beserta dokumen lain dalam amplop coklat bersegel. Jangan coba-coba dibuka, amplop ini mesti kita serahkan ke petugas imigrasi AS di POE (point of entry).


Sehabis itu kami persiapkan bekal dan menyelesaikan pekerjaan yg ada di Indonesia; melakukan pembayaran tagihan-tagihan dan sebagainya. Kami ingin memastikan pada saat sampai di Amerika Serikat jangan sampai masih ada yang terlupa belum dikerjakan di Indonesia.


Akhir Oktober 2019 kami terbang ke AS. Kami tiba di San Francisco sebagai POE. Proses imigrasi sangatlah mudah.


Salam kenal buat CeritaSF dan sukses selalu buat kalian!"

2 komentar:

  1. Congratulations buat anda yang sudah menjejakkan kaki di USA!
    Terhibur juga membaca artikel ini yang menyebutkan bahwa mitos case number besar tidak berpeluang lolos ternyata tidak benar...sebab case number saya 'sangat besar sekali' dan saat ini saya pun sedang menunggu kabar baik selanjutnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga berhasil dan segera mendapatkan kabar baik!

      Hapus