Sabtu, 14 September 2019

5 TAHUN DI SAN FRANCISCO


Waktu berjalan tanpa terasa dan kami kini sudah genap lima tahun meninggalkan Jakarta. Banyak yang berubah dalam kehidupan kami seiring dengan bertambahnya pengalaman tinggal di Amerika Serikat. 

Namun ada dua kejadian penting yang besar dampaknya untuk kami dan perencanaan kehidupan kami ke depannya. Hal pertama, salah satu dari kami memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan yang cukup mapan di perusahaan kopi untuk secara penuh menjadi karyawan outsourcing (alih daya).

Sudah lama sebetulnya kami menjajaki peluang di industri teknologi informasi (tech companies), diawali lewat posisi penyortir data (data rater) untuk keperluan iklan online (search ads) di tahun 2015 lalu. Hanya saja pekerjaan itu sebagai sambilan (part-time), bukan mata pencarian utama.

Sampai suatu saat di pertengahan 2018 ada tawaran untuk menjadi pengisi konten. Walaupun bersifat outsourcing, tapi posisinya mensyaratkan kami ada di kantor klien minimal 7 jam per hari. Akhirnya karir di industri kopi harus ditinggalkan.

Berurusan dengan dunia outsourcing ternyata memberi tantangan tersendiri. Posisi sebagai karyawan kontrak sangat rentan, mengingat klien bisa sewaktu-waktu berubah rencana. Kalau sudah begitu, siap-siap diberhentikan dan mencari tim lain. 

Kami pun tidak luput dari efek negatif. Ketika baru beberapa bulan menjalani profesi sebagai pengisi konten, klien merelokasi pekerjaan tersebut ke luar dari California. Di sini kami mendapat pengalaman baru yaitu mengurus klaim asuransi tenaga kerja. Untunglah tidak lama kemudian ada peluang lain, masih sebagai karyawan outsourcing, hanya untuk perusahaan yang berbeda.

Kejadian kedua, kami tanpa disangka mendapat kesempatan untuk membeli tempat tinggal di San Francisco ini. Hal yang sama sekali di luar nalar saat mengemas barang yang penting-penting saja ke dalam empat koper di Jakarta bulan September 2014.

(Kisah awal hidup kami di San Francisco bisa dibaca di: "Dimulai Lagi di San Francisco")

Apalagi kami sadar status sebagai warga negara asing di AS. Kami berpedoman pada peraturan Indonesia di mana warga negara asing tidak dapat memiliki properti atas namanya sendiri. Kami berasumsi di Negara Paman Sam akan sama saja.

Namun ternyata kami salah. Berawal dari keinginan untuk mencari sewa rumah yang lebih luas, mengingat tempat tinggal pertama kami di SF amat mungil. Apartemen tipe studio tanpa kamar tambahan yang kami tinggali selama empat tahun tidak bisa menampung kalau ada kerabat berkunjung.

Kami memperoleh informasi ternyata ada program bantuan (subsidi) untuk membeli rumah dari pemerintah kota San Francisco. Hebatnya, program bantuan ini juga bisa dimanfaatkan warga SF yang berstatus permanent resident / green card, bukan eksklusif bagi warga negara AS semata. 

Orang asing bisa punya properti saja menurut kami sudah luar biasa; ini malah boleh ikut serta program bantuan dari pemerintah. 

Tidak mudah memang untuk mendapatkan bantuan ini, persyaratannya ketat dan harus mengikuti undian mengingat peminatnya sangat banyak. Singkat cerita kami akhirnya bisa memenuhi semua persyaratan dan memenangkan undian guna mendapatkan hunian yang lebih lapang. Artikel mengenai program spesial ini akan kami buat terpisah.


Konsekuensi lain dari pindah ke rumah baru adalah harus memiliki kendaraan pribadi, karena lokasi rumah kami terletak di puncak bukit yang tidak terjangkau langsung oleh kendaraan umum. Setelah empat tahun bebas dari kendaraan pribadi dan menikmati sarana transportasi umum kota San Francisco yang beragam, kami akhirnya menyerah dan membeli kendaraan roda empat.

Periode lima tahun ini ternyata menjadi titik balik kepastian arah kami ke depannya. Jika awalnya kami hanya  merencanakan untuk tinggal sementara saja, maka kini kami memantapkan diri untuk menjadikan San Francisco sebagai rumah kami yang permanen. 


Tautan cerita lainnya:
- 1 Tahun Di San Francisco
- 2 Tahun Di San Francisco

Selasa, 20 Agustus 2019

PENGALAMAN PEMENANG GREEN CARD LOTTERY 2019 (3)

Sekali lagi CeritaSF menerima kiriman cerita pengalaman salah seorang pemenang Green Card Lottery 2019. Pengalaman ini unik karena beliau telah tinggal dan bekerja di Amerika Serikat (AS) dengan menggunakan visa kerja (H-1B). Jadi untuk pembaca blog CeritaSF yang sudah memiliki visa kerja di AS namun ingin mendapatkan Green Card, selain menunggu sponsor dari perusahaan tempat bekerja tidak ada salahnya ikut mendaftar Green Card Lottery juga. Jangan putus asa apabila anda tidak langsung terpilih menjadi pemenang. Seperti cerita di bawah ini, dengan kegigihan selalu mendaftar DV Lottery setiap tahun selama lebih dari 10 tahun, beliau akhirnya bisa menang dan mendapat Green Card.

Selasa, 13 Agustus 2019

PENGALAMAN PEMENANG GREEN CARD LOTTERY 2019 (2)

Berikut adalah cerita pengalaman salah seorang pemenang DV Lottery 2019 lainnya. Ternyata walaupun menghadapi berbagai rintangan, namun akhirnya Vivi berhasil mendapatkan visa imigrasi ke Amerika Serikat melalui program DV Lottery. 

Pelajaran berharga yang bisa diambil dari pengalaman ini, yaitu usahakan untuk selalu teliti ketika mengisi formulir DS-260 dan pastikan anda memiliki waktu yang cukup untuk tiba di tempat wawancara sesuai jadwal yang ditentukan. Selain itu, yang terpenting dari pengalaman ini adalah apabila anda menghadapi suatu rintangan, usahakan untuk selalu tetap berpikir positif dan segera mengambil tindakan proaktif, misalnya menghubungi Kentucky Consular Center (KCC) atau Kedutaan Besar Amerika Serikat (Kedubes AS) untuk melaporkan masalah yang anda hadapi dan mencari jalan keluarnya. 

Pada prinsipnya, apabila anda sudah memenuhi seluruh kualifikasi, KCC dan Kedubes AS ada untuk membantu anda mendapat visa imigrasi, bukan untuk mempersulitnya.

Salut untuk kegigihan Vivi! Selamat dan semoga seluruh rencana kepindahannya ke AS dapat berjalan lancar!

Senin, 10 Juni 2019

PENGALAMAN PEMENANG GREEN CARD LOTTERY 2019 (1)

Salah seorang pembaca blog CeritaSF yang baru saja lolos tahap wawancara dan berhasil mendapatkan visa imigrasi ke Amerika Serikat melalui program Green Card Lottery telah bersedia menuliskan dan berbagi pengalaman berharganya sejak awal mendaftar. Semoga cerita ini dapat membantu para pembaca CeritaSF lainnya yang baru saja terpilih menjadi pemenang Green Card Lottery dan sedang berdebar-debar menyiapkan dan menunggu tahapan selanjutnya.

Apabila anda sudah berhasil melewati seluruh proses Green Card Lottery dan ingin membagikan pengalaman anda untuk membantu teman-teman lainnya juga, anda bisa mengirimkan tulisan anda ke info@ceritasf.com. Kami sangat berterima kasih atas sharing pengalaman anda.

Berikut cerita Ray, salah satu pemenang Green Card Lottery 2019:

Rabu, 08 Mei 2019

PENGUMUMAN PEMENANG DV LOTTERY 2020

Apabila anda telah mendaftarkan diri untuk mengikuti DV Lottery 2020 pada tanggal 3 Oktober - 6 November 2018, maka anda dapat melihat pengumuman pemenang mulai tanggal 7 Mei 2019 sampai 30 September 2020 di situs:

https://www.dvlottery.state.gov/



Pastikan anda memiliki nomor konfirmasi (confirmation number), nama keluarga, dan tahun lahir untuk mengecek status secara online. 

Kamis, 07 Februari 2019

INI SEBABNYA CV TIDAK LOLOS SARINGAN KERJA

Salesforce Tower, SF Transbay
Anda berdebar-debar ketika hasil pencarian di website menampilkan beberapa lowongan kerja di Amerika untuk orang Indonesia. Apalagi posisi tersebut benar-benar sesuai dengan minat dan keahlian Anda. Di bagian bawah ada tombol bertuliskan ‘easy apply’. Anda langsung klik dan buru-buru memasukkan CV (Curriculum Vitae / Daftar Riwayat Hidup).

Eits! Tunggu dulu! Ada kunci penting yang harus Anda punya. Tanpa kunci ini, lamaran kerja hampir pasti tidak akan diikuti panggilan untuk wawancara. Anda pun bertanya-tanya mengapa setelah mengirimkan lamaran tidak ada tindak lanjut apa pun.

Faktor utama e-mail lamaran tidak tembus karena terhalang di robot penyeleksi. Ibaratnya gerbang, lamaran Anda harus berfungsi sebagai kunci yang tepat untuk membukanya. Kalau tidak pencarian Anda akan berubah menjadi penantian tak berkesudahan.

Apa itu robot penyeleksi?