Kamis, 07 Februari 2019

INI SEBABNYA CV TIDAK LOLOS SARINGAN KERJA

Salesforce Tower, SF Transbay
Anda berdebar-debar ketika hasil pencarian di website menampilkan beberapa lowongan kerja di Amerika untuk orang Indonesia. Apalagi posisi tersebut benar-benar sesuai dengan minat dan keahlian Anda. Di bagian bawah ada tombol bertuliskan ‘easy apply’. Anda langsung klik dan buru-buru memasukkan CV (Curriculum Vitae / Daftar Riwayat Hidup).

Eits! Tunggu dulu! Ada kunci penting yang harus Anda punya. Tanpa kunci ini, lamaran kerja hampir pasti tidak akan diikuti panggilan untuk wawancara. Anda pun bertanya-tanya mengapa setelah mengirimkan lamaran tidak ada tindak lanjut apa pun.

Faktor utama e-mail lamaran tidak tembus karena terhalang di robot penyeleksi. Ibaratnya gerbang, lamaran Anda harus berfungsi sebagai kunci yang tepat untuk membukanya. Kalau tidak pencarian Anda akan berubah menjadi penantian tak berkesudahan.

Apa itu robot penyeleksi?


ATS, Si Robot Penyeleksi


Sudah menjadi hukum ekonomi, bahwa pelamar kerja (supply) akan selalu lebih banyak dari lowongan (demand) yang tersedia. Tentu saja ribuan berkas CV itu menyita waktu lama jika diseleksi secara manual.

Mulanya pihak yang membutuhkan tenaga kerja menerapkan sistem digital (lewat e-mail, online forms/formulir daring, maupun website/situs). Calon pekerja tidak memasukkan surat tertulis (hardcopy), melainkan diminta menyerahkan lamaran dalam bentuk data elektronik.

Data elektronik sangat memudahkan penyimpanan dan proses penyaringan. Namun lama-kelamaan rekrutmen digital pun butuh waktu lama jika semuanya mesti dibaca satu persatu oleh manusia.

Kemajuan zaman memungkinkan komputer menangani seleksi lewat bantuan algoritme. Tentu saja prosesnya secara otomatis, alias tanpa campur tangan manusia. Maka disebut robot. Algoritme tersebut dijuluki ATS, atau kepanjangannya Applicant Tracking System. Layanan seleksi berbasis perangkat lunak (software) ini telah dipakai secara luas di dunia HR (human resources).



Mengapa perusahaan memakai ATS?


Sudah disinggung sedikit, ATS memudahkan pada saat seleksi awal (screening). Selain lebih cepat, robot ini juga membantu personel bagian SDM (HRD = Human Resources Dept.) “memilih” karyawan yang benar-benar berkualitas.

Keberadaan internet dan komputer memudahkan banyak aspek dalam kehidupan, termasuk melamar pekerjaan. Jika kita sudah punya CV dalam bentuk digital, hanya hitungan menit saja seseorang bisa melamar kerja lewat portal atau situs di internet. Akibatnya, perusahaan pencari karyawan dibanjiri lamaran yang sifatnya hanya “coba-coba”, banyak orang memasukkan saja aplikasinya walau pengalaman mereka tidak sepenuhnya cocok dengan posisi yang tersedia.
ATS memastikan hanya berkas yang benar-benar sesuai yang dibaca staf personalia.

Berhubung sangat membantu, ATS dipakai oleh hampir 90% perusahaan besar di Amerika Serikat (memiliki jumlah karyawan lebih dari 1.000 orang) dalam proses perekrutan. Namun di luar sisi positifnya, robot penyaring ini juga punya efek negatif.

Seringkali CV yang Anda kirimkan malah “masuk kotak” sebelum dibaca oleh manusia (staf HRD). Jangankan panggilan wawancara, masa depan Anda bisa hilang karena disortir komputer dalam sepersekian detik. Supaya tidak mengalami dampak buruknya, kita perlu memahami lebih jauh soal ATS ini.

Prinsip Kerja ATS 


Ada banyak layanan ATS yang tersedia, misalnya CATSone, iCIMS, Taleo, Bullhorn, UrbanHire, Recruiter Box, dan sebagainya. Cara kerjanya berbeda-beda, tergantung perusahaan yang membuat, tetapi proses dasarnya serupa.
CATSone, ATS,
Cuplikan layar CATS, di mana profil kandidat diperingkat
 (sumber: Quora.com)

Pertama-tama ATS bekerja dengan membuat profil pelamar yang masuk, semacam folder yang berisi segala hal tentang kandidat dan memasukkan file CV serta data-data lain yang diminta ke dalamnya. Selanjutnya robot ini akan memindai (scanning) data elektronik yang ada.

Progam komputer ini mencari dan mencocokkan beberapa kata kunci serta frasa yang sudah diatur oleh staf HRD sebelumnya. Kata kunci ini termuat dalam iklan lowongan dan biasanya menjabarkan pekerjaan yang akan ditangani kandidat nantinya.

Kemudian algoritme secara matematis akan memberi nilai (scoring) dan memeringkat profil pelamar tersebut. Contohnya, CATSone memberi bintang di samping nama profil guna menunjukkan peringkat. Mirip seperti eBay listings atau pun ulasan pembeli di Amazon. Semakin banyak bintangnya, berarti semakin besar peluang orang tersebut dipanggil wawancara (lihat gambar).

Hanya sebagian kecil profil peringkat atas yang akan dibaca langsung oleh manusia guna dipertimbangkan ikut proses lanjutan. Sebagian besar profil tentu akan disingkirkan.

Cara Lolos dari ATS 

Lalu harus bagaimana? Nah, seleksi oleh ATS ini dapat disiasati. Hal yang paling penting dilakukan adalah meneliti CV / resume Anda dan menerapkan format yang bisa memperoleh nilai tinggi dari ATS. Istilahnya, menggunakan format yang ATS-friendly.

Hal ini akan dibahas lebih mendalam dalam artikel selanjutnya.

2 komentar:

  1. Dear CeritaSF,
    Terima kasih sekali atas sharingnya tentang artikel ini terkait ATS. Kami menunggu artikel selanjutnya untuk pembahasan yang lebih mendalam. Salam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kembali. Semoga cerita ini bisa bermanfaat.

      Hapus